Hadis 484
Sejarah Perubahan Arah Kiblat dari Baitul Maqdis ke Ka'bah
Sunan an-Nasai : 484
Sunan an-NasaiNomor Hadis 484
أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ قَالَ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ قَالَ حَدَّثَنَا أَبُو إِسْحَقَ عَنْ الْبَرَاءِ قَالَ صَلَّيْنَا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَحْوَ بَيْتِ الْمَقْدِسِ سِتَّةَ عَشَرَ شَهْرًا أَوْ سَبْعَةَ عَشَرَ شَهْرًا شَكَّ سُفْيَانُ وَصُرِفَ إِلَى الْقِبْلَةِ
Telah mengabarkan kepada kami [Muhammad bin Basyar] dia berkata: Telah menceritakan kepada kami [Yahya bin Sa'id] Telah menceritakan kepada kami [Sufyan] dia berkata: Telah menceritakan kepada kami [Abu Ishaq] dari [Al Bara'] dia berkata: "Kami shalat bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam (menghadap) ke arah Baitul Maqdis selama enam belas bulan atau tujuh belas bulan -Sufyan merasa ragu-, kemudian dialihkan ke kiblat (Ka'bah).
Pelajaran yang kita ambil dari hadits ini
- Baitul Maqdis pernah menjadi arah kiblat pertama umat Islam selama kurang lebih enam belas hingga tujuh belas bulan.
- Perubahan aturan ibadah atau syariat sepenuhnya merupakan hak prerogatif Allah semata.
- Sikap ketaatan Rasulullah dan para sahabat yang mengikuti setiap perintah wahyu tanpa bantahan.
- Ka'bah di Makkah akhirnya ditetapkan sebagai arah kiblat yang permanen hingga akhir zaman.
